Cara Melarang Anak yang Baik. Kira-kira Gimana, Ya?

Cara Melarang Anak yang Baik
Saya mau menyapa orang tua yang masih punya anak balita nih. Gimana? Masih punya sisa sabar nggak? Hahaha! Punya anak balita memang musti ekstra sabar, apalagi ketika mereka sudah mulai masuk tahapan tumbuh kembang yang serba ingin tahu, di mana anak ingin mengeksplorasi dan melakukan banyak hal baru. Sementara disaat yang sama mereka belum bisa mengungkapkan isi hati dan juga emosi mereka dengan jelas. Nah, tahapan ini biasanya membuat orang tua kebingungan.
Cara Melarang Anak yang Baik
Di tahapan seperti ini balita memang seringkali melakukan banyak kesalahan. Ini sangat normal. Tapi sayangnya respon orang tua dalam menanggapi segala kesalahan yang dilakukan anak seringkali tidak tepat. Tak jarang orang tua kehabisan kesabaran, marah dengan nada suara yang tinggi, melabel, bahkan membandingkan si kecil dengan anak lain. Reaksi yang tidak tepat seperti ini ternyata memberikan dampak buruk kepada anak. Anak bisa jadi nggak percaya diri, takut mencoba hal baru, merasa tidak berharga, berpotensi menjadi pemarah, juga berpotensi tumbuh dengan membenci dirinya sendiri. Pastinya kita nggak mau kan anak kita tumbuh seperti ini.
Cara Melarang Anak yang Baik
Image: Pexels
Berkomunikasi dengan anak dan mengungkapkan larangan dengan kata ‘tidak’ atau ‘jangan’ sesungguhnya tidak efektif. Terbukti si kecil biasanya malah sengaja melakukan yang dilarang, hehehe. Ganti saja dengan kata positif lengkap dengan alasannya seperti contohnya mengganti kalimat “jangan bawa gelas sambil lari”, dengan “Kalau bawa gelas sambil jalan saja, supaya airnya nggak tumpah”. Atau ganti kalimat “ Jangan main bola didalam rumah”, dengan “main bolanya diluar saja yuk! Bunda temenin deh.”. Bisa juga dengan memberikan pilihan agar anak sekalian belajar mengambil keputusan, “Adik mau main bola di halaman depan atau di taman komplek?”. Daripada memberikan larangan sambil berteriak, lebih baik menggunakan teknik ini dengan tenang dan penuh kasih sayang. Karena kadang teriakan dan amarah seringkali menutupi maksud baik dari hal yang ingin kita sampaikan.
Satu lagi, dari pada marah-marah ketika anak menumpahkan air dari gelas misalnya, lebih baik manfaatkan momen tersebut untuk melatih tanggung jawab si kecil. Berikan si kecil lap dan ajak si kecil membersihkan tumpahan airnya. Kalau si kecil tidak mau, konsekwensinya si kecil belum bisa melakukan hal yang disukai seperti bermain, makan atau minum sampai tanggung jawabnya dianggap selesai. Tanpa amarah, justru kita bisa melihat kesempatan mendidik anak disetiap kesalahan yang dilakukan si kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *